Yosamartha, Bitcoin Bukan Alat Pembayaran Yang Sah di Indonesia

LiputanNKRI, Bank Indonesia (BI) resmi mengeluarkan aturan pelarangan uang virtual seperti Bitcoin. Bank sentral menegaskan bahwa alat pembayaran tersebut belum sah penggunaannya di dalam negeri.

Pernyataan ini dengan mengacu pada Undang-undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Serta UU No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir menjadi Undang-Undang No. 6 Tahun 2009.

Direktur Fintech workplace Bank Indonesia, Yosamartha ( nomor dua dari kiri ), menegaskan alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah mata uang Rupiah yang telah di sah kan dalam UU. Bitcoin dinyatakan tidak sah sebagai alat pembayaran.

“Apa dasarnya? Karena Undang-Undang kita sudah clear. Satu-satunya alat yang digunakan untuk transaksi untuk tujuan pembayaran adalah mata uang Rupiah. Apa Bitcoin itu Rupiah? Tidak,” ungkapnya dalam diskusi ‘Bitcoin Peluang atau Jebakan’, di building wader Harmoni,Jakarta Pusat, Rabu (13/12).

Dengan adanya peraturan yang melarang penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran, maka pengguna bitcoin tentunya berhadapan dengan konsekuensi hukum bila melanggar.

“Jangan sampai virtual currency ini masuk ke sistem keuangan. Saat ini menjadi pilihan individu. Karena bisa saja nanti ada tindakan tegas dalam konteks Undang-Undang kalau digunakan untuk pembayaran. Sanksinya pidana loh,” ujarnya

“Kalau teman-teman tetap insist, monggo silakan, tapi hati-hati risiko ditanggung sendiri,” tambahnya.

Dia pun mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan Bitcoin. Sebab, tidak ada dasar hukum yang  jelas yang telah menyokong penggunaan Bitcoin di Indonesia.

“Karena bisa lihat sendiri dalam waktu ten bulan, 11 bulan bitcoin itu hampir 1.300 persen kenaikannya. Jadi bisa dibayangkan kalau sewaktu-waktu ini di wipe out kan masyarakat juga yang rugi. Padahal tidak ada legal basis untuk melindungi teman-teman (masyarakat) semua,” jelas dia.

Komentar Anda