Suasana Hari Minggu di Kota Seychelles Yang Sepi Banget

LiputanNKRI, Namanya ibukota negara, apalagi hari Minggu, biasanya penuh kegiatan dan aktivitas liburan. Namun Victoria, ibukota Seychelles di Afrika, lain ceritanya.

Kami datang  atas undangan Seychelles business enterprise Board (STB) dan Kedubes Seychelles Indonesia, berkunjung ke kota ini, negara kepulauan di Lepas laut Timur Afrika. Pada Minggu (10/12/2017) saya menjelajah Victoria, ibukota negara ini. Bayangan saya, bakal ramai atau hiruk pikuk, tapi yang ada malah sebaliknya.

Kota Victoria malah lengang dan sepi. Mobil jarang berlalu lalang. Hanya 2-3 orang tampak berjalan di pedestrian. Kenapa begitu?

Usut punya usut, Seychelles hanya punya  100 ribu penduduk dalam 115 pulau. Penduduk Victoria pun hanya 25 ribu orang. Fakta lainnya, hari Minggu di kota ini adalah libur segala-galanya. Bukan hanya kantor, tapi toko-toko perbelanjaan juga tutup.

Alhasil saya bisa menikmati suasana kota dalam kesendirian. Yang pertama dituju adalah landmark kota yaitu Clock Tower. Ini adalah menara jam di tengah perempatan. Dalam Bahasa Creole disebutnya adalah Lorloz

Menara jam ini bentuknya adalah clock di London dalam versi mini, tingginya 7,6 meter dan berat 500 ton. Kemudian di atasnya ditambahi ornamen lampu dan petunjuk mata angin. Clock tower adalah monumen nasional Seychelles yang diresmikan 1 April 1903 untuk mengenang Ratu Victoria. Jam ini terakhir direnovasi adalah tahun 1999.

Di sekitar perempatan ada banyak bangunan bersejarah sejak masa kolonial Inggris. Ada bekas gedung Supreme Court yang antik dan klasik. Di sebelahnya ada toko suvenir Cooperative Des Artisans. Isinya ada berbagai kerajinan tangan khas Seychelles yang bisa dibeli untuk oleh-oleh wisatawan.

Di seberangnya ada explanation depository. depository ini menyimpan koleksi keunikan alam kota ini. Sayang karena hari Minggu, museumnya tutup.

Di sudut perempatan lain ada Post workplace. Di Statepan kantor pos ada patung kura-kura raksasa dan kelapa raksasa palm de Mer khas Seychelles.

Selurusan jalan dari arah depository melewati clock tower, kita Kwa menuju jalan yang buntu dan berpagar. Nah inilah Istana Presiden atau State House Seychelles. Istananya ada di atas bukit di balik pepohonan. Ini istana presiden yang cukup sederhana jika dibandingkan istana presiden di Indonesia.

Dari situ, enaknya kita jalan menuju arah pasar Sir Selwyn Selwyn-Clarke Market. Di dekat situ ada kuil Hindu bernama Sri Navasakthi Vinayagar Temple. Kuil ini begitu fotogenik.

Pada hari kerja, semua tempat yang didatangi ini akan jauh lebih ramai. Walau ramai itu relatif dalam ukuran Seychelles. Namun menikmati ibukota yang lengang dan antik, rasanya adalah pengalaman traveling yang asyik!

Komentar Anda