Siti Aisyah : “Saya Hanya Bermaksud Menjahili Korban”

LiputanNKRI – KUALA LUMPUR – Siti Aisyah menjadi satu-satunya warga negara Indonesia yang namanya terseret dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri Presiden Korea Utara, Kim Jong-un. Sampai saat ini, status perempuan 25 tahun itu belum jelas.

Berita Indonesia, Berita Terkini, Berita Teraktual, Berita Terpercaya

Kepada polisi, dia mengaku hanya bermaksud menjahili korban. Dia tidak tahu menahu kalau aksinya itu ternyata bisa sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Pengakuan Siti Aisyah sendiri tidak bisa dianggap angin lalu. Pasalnya berdasarkan pewartaan Mirror, Selasa (21/2/2017), perempuan kelahiran Serang, Banten, itu pernah ikut program jahil serupa di suatu pusat perbelanjaan di Jakarta.

“Dia cerita mulanya direkrut seorang pria paruh baya pada Januari lalu. Pria yang mengajaknya ini bisa bicara dalam bahasa Jepang dan Melayu. Siti ditawarkan melakukan pekerjaan jahil untuk suatu program di televisi. Sebagai imbalannya, dia akan dibayar Rp1 juta rupiah,” terang seorang petugas keamanan setempat yang tidak ingin namanya disebut.

Menurut Siti, pekerjaan yang ditawarkan sangat mudah. Dia juga sedang butuh uang, jadi dia menerimanya. Apalagi dia sudah punya pengalaman serupa sewaktu merantau di Jakarta.

“Dia diberitahu kerjanya nanti hanya menyentuh pipi, mencolek dan menyemprotkan saus ke wajah seorang pria kaya. Waktu itu, dia tidak berpikir instruksi itu mencurigakan. Dia juga mengambil tawaran itu dengan harapan ini akan jadi kesempatannya untuk masuk TV,” sambung penjaga keamanan tersebut.

Aisyah mendapatkan tawaran tersebut di sebuah kelab malam di Malaysia. Di Negeri Jiran, ibu satu putra tersebut diketahui bekerja sebagai tukang pijat di spa dan perempuan pendamping di kelab malam di Kuala Lumpur.

Kini, nasibnya terus menjadi sorotan nasional. Keluarga dan kerabat di Indonesia mengenalnya sebagai orang yang baik, tetapi agak naïf. Mereka tidak percaya orang sebaik Siti Aisyah bisa membunuh seseorang. Sementara isu yang berhembus menyebut dia sebagai salah satu agen intelijen Korut.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sampai sekarang belum mendapat akses kekonsuleran. Bahkan, Pemerintah Malaysia pun melarang pejabat KBRI Malaysia menemui Siti Aisyah.

Terakhir, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi berangkat ke Filipina serta melakukan pertemuan trilateral dengan Menlu Malaysia Dato Sri Anifah Aman dan Menlu Vietnam Panh Binh Minh di sela Pertemuan Menteri Luar Negeri Negara-Negara ASEAN.

Menlu Retno kembali meminta Malaysia untuk memberikan akses kekonsuleran kepada Indonesia untuk membantu Siti Aisyah. Akses kekonsuleran itu diperlukan agar hak-hak hukum Aisyah terpenuhi sepanjang proses hukum dijalani.

Menanggapi permintaan tersebut, Menlu Malaysia Dato Sri Anifah Aman mengatakan, saat ini penyelidikan masih berlangsung, namun akses kekonsuleran akan diberikan secepatnya.

Komentar Anda