Rezim Pyongyang Akan Membawa Malapetaka Bagi Korea Utara

LiputanNKRI, Setiap jalan untuk Korea Utara (Korut) menggulingkan Kim Jong-un dari tampuk pimpinan akan menyebabkan malapetaka bagi negara tersebut. Demikian pernyataan seorang wartawan yang melaporkan dari negara tersebut.

“Membuat masyarakat Korut terbuka adalah masalah yang benar-benar suram karena warga negara telah kehilangan alat yang mereka butuhkan, pendidikan, informasi, alat berbagi,” tutur Suki Kim seperti dikutip dari Independent, Rabu (6/9/2017).

Kim menulis buku while not You, there’s No U.S. setelah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Universitas Sains dan Teknologi di ibu kota Pyongyang. Dia berhasil menyelundupkan catatannya ke luar negeri.

“Bukan sistem yang bisa membuat mereka moderat. Pemimpin Besar tidak bisa dimoderasi. Anda tidak bisa menjadi dewa yang mempunyai kekurangan. Sistem Pemimpin Besar harus dihancurkan. Tapi tidak ini tidak mungkin untuk dibayangkan,” ucapnya.

“Intervensi militer tidak akan berhasil karena ini tentang tenaga nuklir. Saya kira hal itu harus terjadi dalam menuangkan informasi atas Korut dalam kapasitas apa pun,” imbuhnya.

“Tapi kemudian populasi disalahgunakan sebagai korban ideologi pengkultusan. Bahkan jika Pemimpin Besar telah pergi, bentuk kediktatoran lainnya akan menggantikannya. Setiap jalan adalah malapetaka. Saya ingin menawarkan solusi namun semuanya mengarah pada jalan buntu,” ujarnya lagi.

Berita tersebut muncul saat krisis di semenanjung peninsula terancam semakin memburuk. Sebuah laporan dari Korea Selatan (Korsel) menyebutkan negara tetangganya itu sedang memindahkan sebuah rudal, tampaknya sebuah rudal balistik antar benua, menuju pantai barat.

Rezim Kim Jong-un telah melakukan uji coba nuklir keenamnya pada hari Minggu lalu. Korut mengklaim telah meledakkan apa yang diklaimnya sebagai alat termonuklir yang beberapa kali lebih kuat daripada usaha sebelumnya.

“Korut tidak akan menyerah untuk mengembangkan senjata nuklir. Tidak akan pernah,” kata Pemimpin Korut, Kim Jong-un, memperingatkan.Uji coba ini seolah membenarkan pernyataan pembelot Korut, Thae Yong-ho. Thae adalah wakil duta besar Korut di London dan membelot ke Korsel pada tahun lalu.

Ia mengatakan bahwa rezim Pyongyang  bertekad untuk menyelesaikan pengembangan senjata nuklirnya pada akhir 2017, dan Korut tidak akan menyerah. “Bahkan jika negara tersebut mengajukan USD1 triliun atau USD10 triliun sebagai imbalannya,” cetusnya.

Komentar Anda