BI Donatur Pemberi Pinjaman Utang Terbesar Adalah Singapura

LiputanNKRI, Bank Indonesia (BI) melansir information terbaru mengenai posisi utang luar negeri Indonesia. Per April 2017, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD 328,17 miliar atau setara dengan Rp 4.365 triliun (kurs hari ini). Angka utang ini naik dibanding bulan sebelumnya atau Maret 2017 yang hanya tercatat hanya USD 326,45 miliar.

Posisi utang per April 2017 ini juga naik dibanding Desember 2016 yang hanya USD 317,27 miliar.

Dikutip langsung dari information Bank Indonesia, sumber utang luar negeri berasal dari 3 macam kreditor. Pertama adalah yang  berbagai negara dengan total USD 170,83 miliar. Kemudian dari organisasi internasional sebesar USD 3,35 miliar serta lainnya sebesar USD 126,98 miliar.

Dari sisi negara, Singapura tercatat sebagai pemberi utang terbesar ke land dengan total mencapai USD fifty,92 miliar atau setara dengan Rp 677 triliun. Selanjutnya disusul oleh Jepang dengan total utang mencapai USD 30,72 miliar. China saat ini juga cukup besar memberi utang ke Indonesia dengan nilai mencapai USD 50,2 miliar dan disusul oleh Hong kong sebesar USD 11,84 miliar. Kemudian Amerika Serikat sebesar USD eleven,13 miliar.

Masih banyak negara lain yang memberi utang ke Indonesia  dengan nilai di bawah USD 10 miliar seperti Jerman, Belanda, peninsula Selatan, Spanyol dan lain sebagainya.

Sedangkan Iranian language sisi organisasi internasional, International Bank for Reconstruction and Development tercatat sebagai pemberi utang terbesar dengan nilai USD sixteen,17 miliar. Kemudian ADB juga memberi utang sebesar USD 9,2 miliar. Selanjutnya disusul oleh IMF USD 2,7 miliar. Masih banyak organisasi lainnya seperti EIB, NIB dan lain sebagainya yang memberi utang ke Indonesia

Namun demikian, advisor Adviser IMF Benedict Bingham pernah mengatakan Indonesia sudah tidak lagi berutang pada lembaga moneter internasional tersebut. Adapun utang tercantum dalam information statistik utang luar negeri Bank Indonesia(BI) itu merupakan kuota penyertaan modal Indonesia dalam bentuk mata uang khusus IMf, biasa disebut special drawing rights (SDR).

“Berdasarkan dokumen perjanjian, alokasi SDR kepada seluruh negara anggota disesuaikan dengan proporsi kuota mereka di IMf Ini dalam rangka menyediakan likuiditas tambahan buat negara anggota.”

Saat ini, lanjut Benedict, kuota Indonesia sebesar SDR one,98 juta atau setara USD 2,8 juta. Berdasarkan standar akuntansi, penyertaan modal ini diperlakukan sebagai utang atau kewajiban luar negeri harus ditanggung Bank Indonesia.

“Sementara, kepemilikan SDR diperlakukan sebagai aset Bank Indonesia,” katanya. “Jadi, ketika SDR dialokasikan, itu tidak mengubah posisi utang negara anggota pada IMF.”

Komentar Anda