Kasus “Makar” Kami tidak butuh Keterangan dari Tersangka, Kapolda

LiputanNKRI, Jakarta Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan merespons pertemuan yang dilakukan oleh tersangka dugaan makar Rachmawati Soekarnoputri dengan beberapa pimpinan DPR, Selasa (10/01/2017). Dia mengatakan pertemuan itu tidak akan mempengaruhi sistem penyidikan dugaan makar yang tengah dilakukan Polda Metro Jaya.

Beberapa ungkapan dari Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu 11/01/2017:

  • Pertama kasus tetap jalan
  • Kedua itu hak Ibu Rachmawati ke DPR, karena DPR itu wakil rakyat, beliau mengadu
  • Ketiga aliran dana (dugaan makar) ada, kita memiliki bukti

Dia tidak mau ambil pusing atas sikap beberapa tersangka yang menyangkal dari dugaan makar. Baginya, polisi sudah mempunyai bukti permulaan yang kuat untuk menjerat beberapa aktivis serta tokoh nasional itu sebagai tersangka dugaan makar.

“Bila tersangka mengatakan tidak ada, tidak jadi masalah. Itu hak tersangka. Kita ada saksi, bukti, surat, petunjuk serta keterangan dari ahli. Jadi kami tak perlu keterangan dari tersangka,” tegas Iriawan.

Bekas Kapolda Jawa Barat itu juga malas menyikapi terlaku jauh keinginan Wakil Ketua DPR Fadli Zon berkaitan penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) masalah makar. Dia mengatakan polisi tidak akan dapat diintervensi oleh pihak manapun dalam masalah makar ini.

“Tolong jelaskan kepada saya bagaimana SP3-nya, Hukumnya bukan begitu, Hukun tidak memandang kamu itu siapa tetapi siapapun yang terbukti akan tetap dijalankan. Buktinya ada, (Keinginan DPR) Tidak dapat mempengaruhi sistem penyidikan. DPR kan mengakomodir rakyatnya dan bakal dikomunikasikan dengan kami,” tandas Iriawan.

Sebelumnya, sejumlah 11 aktivis serta tokoh nasional di tangkap hampir bersamaan tetapi di tempat yang berbeda pada Jumat 2/12/2016 pagi. Penangkapan dilakukan sesaat sebelumnya tindakan damai 212 di Monas, Jakarta Pusat dimulai. Beberapa aktivis serta tokoh nasional itu dituding akan melakukan tindakan makar dengan memakai massa tindakan 212.

Setelah melakukan pemeriksaan intensif di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, tujuh orang diputuskan sebagai tersangka dugaan makar serta permufaktan jahat yang tercantum dalam Pasal 107 juncto 110 juncto 87 KUHP. Mereka yaitu, Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, serta Rachmawati Soekarnoputri. Tetapi tujuh orang ini tidak ditahan.

Sesaat tiga aktivis yang lain, yaitu Sri Bintang Terakhir, Jamran, serta Rizal Kobar dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 UU Nomer 11 tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 107 juncto Pasal 110 KUHP mengenai Makar serta Permufakatan Jahat. Ketiganya hingga sekarang ini masih ditahan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya.

Yang terakhir, musisi Ahmad Dhani yang juga di tangkap pada 2 Desember 2016 silam tidak dijerat dengan pasal makar. Pentolan group band legendaris Dewa 19 itu diputuskan sebagai tersangka penghinaan pada Presiden Joko Widodo sesuai dengan Pasal 207 KUHP. Dhani juga tidak ditahan setelah 1×24 jam di check di Mako Brimob.

Komentar Anda

Leave a Reply